CARA PERBENTENGAN DARI 'AIN - JAM'IYYAH RUQYAH ASWAJA (JRA) TEAM BARUKLINTING DEMAK

Breaking

Post Top Ad

test banner

Post Top Ad

JRA DEMAK TEAM BARUKLINTING

Kamis, 29 Juli 2021

CARA PERBENTENGAN DARI 'AIN

Telah disampaikan pada terkait dengan ‘ain dan bahayanya ‘ain. telah disampaikan juga terkait dengan cara mengobati ‘ain sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Namun perlu diketahui juga bahwa bahaya ‘ain adalah di bawah ketetapan ketetapan dan takdir Allah SAW sebagaimana hadits:

عَنْ عُبَيد بْنِ رَفَاعَةَ الزُرقي قَالَ: قَالَتْ أَسْمَاءُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ بَنِي جَعْفَرٍ تُصِيبُهُمُ الْعَيْنُ، أَفَأَسْتَرْقِي لَهُمْ؟ قَالَ: "نَعَمْ، فَلَوْ كَانَ شَيْءٌ يَسْبِقُ القدرَ لَسَبَقَتْهُ الْعَيْنُ".

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Amr ibnu Dinar, dari Urwah ibnu Amir, dari Ubaid ibnu Rifa'ah Az-Zurqi yang menceritakan bahwa Asma pernah bertanya, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Bani Ja'far terkena penyakit 'ain, maka bolehkah aku meminta pengobatan secara ruqyah buat mereka?" Rasulullah Saw. menjawab: Ya, seandainya ada sesuatu yang dapat mendahului takdir, niscaya 'ain dapat mendahuluinya.

Maka dari itu perlu adanya antisipasi atau perbentengan diri agar pengaruh ‘ain tidak mengenahi diri kita. Pepatah mengatakan “mencegah lebih baik daripada mengobati”. Bagaimana caranya?

Baca juga: Cara mengobati penyakit 'ain

Syaikh ‘Athiyah Muhammad Salim membagi perbentengan pengaruh ‘ain dengan dua cara:

1. Dengan dzikir dan ruqyah

a. Ketika melihat sesuatu yang menakjubkan, maka ingatlah Allah dengan membaca

 مَا شَاءَ اللهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ. 

Sebagaimana Surat Al-Kahfi ayat 9

وَلَوۡلَآ إِذۡ دَخَلۡتَ جَنَّتَكَ قُلۡتَ مَا شَآءَ ٱللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّهِۚ إِن تَرَنِ أَنَا۠ أَقَلَّ مِنكَ مَالٗا وَوَلَدٗا  

Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu "maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan.

Hadits Rasulullah SAW

مَا أَنْعَمَ اللهُ عَلَى عَبْدٍ نِعْمَةً فِى أَهْلٍ أَوْ مَالٍ أَوْ وَلَدٍ فَيَقُوْلُ مَا شَاءَ اللهُ لاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ إِلاَّ دَفَعَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ كُلَّ آفَةٍ حَتَّى تَأْتِيَهُ مَنِيَّتُهُ وَقَرَأَ وَلَوْلاَ إِذَ دَخَلْتَ إلخ. (رواه البيهقي وابن مردويه عن أنس

Setiap Allah swt memberikan kepada seorang hamba nikmat pada keluarga, harta, atau anak lalu dia mengucapkan “masya’ Allah, la quwwata illa billah”, tentu Allah menghindarkan dia dari segala bencana sampai kematiannya, lalu Rasulullah membaca ayat 39 Surah al-Kahf ini. (Riwayat al-Baihaqi dan Ibnu Mardawaih dari Anas r.a.)

Syaikh Al-Nawawi mengatakan: “Disunnahkan bagi orang yang memandang mendo’akan keberkahan bagi orang yang dipandang. Maka katakanlah اللهمَّ بَارَكَ فِيْهِ وَلاَ تَضُرُّهُ dan membaca مَا شَاءَ اللهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ

b. Memohon perlindungan kepada Allah SWT dari rasa dengki dan kejahatan orang yang dengki

Dalil perbentengan diri dengan isti’adzah/ memohon perlidungan kepada Allah adalah sebagaimana hadits Sayyidah ‘Aisyah:

عن عائشة قالت قال رسول الله صلى الله عليه وسلم استعيذوا بالله فإن العين حق

Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Meminta perlindunganlah kepada Allah dari Al-‘Ain, karena sesungguhnya Al-‘Ain itu haq (benar)”

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ - رضى الله عنهما - قَالَ كَانَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - يُعَوِّذُ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ وَيَقُولُ « إِنَّ أَبَاكُمَا كَانَ يُعَوِّذُ بِهَا إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ ، أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ »

Dari Ibnu Abbas RA, dia meriwayatkan bahwa nabi SAW mendoakan perlindungan bagi Hasan dan Husain dan berkata, "Sesungguhnya bapak kalian (Ibrahim AS) memohon perlindungan dengannya untuk Ismail dan Ishak, “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan dan segala hewan berbisa, serta dari setiap ‘Ain yang dapat mencelakai." (HR Bukhari)

Hadits pertama menunjukkan bahwa isti’adzah dari ‘ain adalah perintah Rasulullah SAW dan hadits yang kedua adalah petunjuk Rasulullah tentang lafadh isti’adzah dari ‘ain. lafadhnya adalah:

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ

“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan dan segala hewan berbisa, serta dari setiap ‘Ain yang dapat mencelakai."

Terdapat juga ulama’ yang mengatakan dengan membaca Surat Al-Falaq yang isinya adalah doa perlindungan dari segala sesuatu, maka cukup untuk perlindungan dari segala sesuatu yang ghaib dan tidak ada sesuatupun yang dapat menolaknya kecuali Allah SWT.

Baca juga: Seputar 'Ain

c. Membaca do’a pagi dan sore

KH. Imron Al-Katibi (Mujiz dan pendiri KBRA) telah menyampaikan bahwa salah satu do’a yang bisa dijadikan sebagai perbentengan diri dari ‘ain adalah 

(بِسْمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ) 

Di dalam kitab Imdadul Fawaid bi Manaqibi Quthbil Irsyad dinuqil dari kitab Syarh Misykatul Mashobih

عَنْ أَبَانَ بْنَ عُثْمَانَ يَقُولُ سَمِعْتُ عُثْمَانَ يَعْنِي ابْنَ عَفَّانَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ قَالَ بِسْمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ لَمْ تُصِبْهُ فَجْأَةُ بَلاَءٍ حَتَّى يُصْبِحَ وَمَنْ قَالَهَا حِينَ يُصْبِحُ ثَلاَثُ مَرَّاتٍ لَمْ تُصِبْهُ فَجْأَةُ بَلاَءٍ حَتَّى يُمْسِيَ.

Dari Aban bin ‘Usman berkata: Aku mendengar ‘Usman yakni Ibn ‘Affan berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa membaca (zikir), yaitu:

(بِسْمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ)

tiga (3) kali, maka tidak akan menimpa marabahaya (bala/bencana) sampai pagi dan barangsiapa yang membacanya pada waktu pagi 3 (tiga) kali maka tidak akan menimpa mara bahaya pada dirinya, sampai sore harinya.

2. Menyembunyikan/menutup bagian atau benda yang dikhawatirkan dapat menimbulkan ‘ain/dapat menimbulkan kedengkian.

Surat Yusuf ayat 67

وَقَالَ يَٰبَنِيَّ لَا تَدۡخُلُواْ مِنۢ بَابٖ وَٰحِدٖ وَٱدۡخُلُواْ مِنۡ أَبۡوَٰبٖ مُّتَفَرِّقَةٖۖ وَمَآ أُغۡنِي عَنكُم مِّنَ ٱللَّهِ مِن شَيۡءٍۖ إِنِ ٱلۡحُكۡمُ إِلَّا لِلَّهِۖ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُۖ وَعَلَيۡهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُتَوَكِّلُونَ  

Dan Ya’qub berkata, "Hai anak-anakku, janganlah kalian (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang lain-lain; namun demikian, aku tiada dapat melepaskan kalian barang sedikitpun dari (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nyalah aku bertawakal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakal berserah diri.” Dan tatkala mereka masuk menurut yang diperintahkan ayah mereka, maka (cara yang mereka lakukan itu) tiadalah melepaskan mereka sedikit pun dari takdir Allah, tetapi itu hanya suatu keinginan pada diri Ya’qub yang telah ditetapkannya. Dan sesungguhnya dia mempunyai pengetahuan, karena Kami telah mengajarkan kepadanya. Akan tetapi, kebanyakan manusia tiada mengetahui. 

Allah Swt. menceritakan tentang Nabi Ya'qub a.s., bahwa dia memerintahkan kepada anak-anaknya ketika melepas keberangkatan mereka bersama Bunyamin menuju negeri Mesir, bahwa janganlah mereka masuk dari satu pintu gerbang semuanya, tetapi hendaklah masuk dari berbagai pintu gerbang yang berlainan.

Menurut Ibnu Abbas, Muhammad ibnu Ka'b, Mujahid, Ad-Dahhak, Qatadah, As-Saddi, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang, hal itu untuk menghindari 'ain. Demikian itu karena mereka adalah orang-orang yang berpenampilan bagus dan mempunyai rupa yang tampan-tampan serta kelihatan berwibawa. Maka Ya'qub a.s. merasa khawatir bila mereka tertimpa 'ain disebabkan pandangan mata orang-orang. Karena sesungguhnya 'ain itu adalah benar, ia dapat menurunkan pengendara kuda dari kudanya.

Hal ini juga diungkapkan oleh Syaikh Ibnul Qoyyim Al-Jauzi sebagaimana termaktub dalam kitab Zadul Ma’ad

ومن علاج ذلك -العين- أيضا والاحتراز منه ستر محاسن من يخاف عليه العين بما يردها، كما ذكر البغوي في كتاب شرح السنة: أن عثمان رضي الله عنه رأى صبيا مليحا فقال: دسموا نونته لئلا تصيبه العين، ثم قال في تفسيره: ومعنى دسموا نونته: أي: سودوا نونته، والنونة: النقرة التي تكون في ذقن الصبي الصغير

Termasuk juga cara pengobatan ‘ain, menutupi bagian yang menarik dari anak, yang dikhawatirkan menjadi sumber ‘ain, ditutupi dengan yang membuatnya kurang menarik. Kemudian Ibnul Qoyim membawakan keterangan riwayat dari al-Baghawi dalam kitab Syarah Al-Sunnah Al-Baghawi, bahwa Utsman radhiyallahu ‘anhu pernah melihat anak kecil yang sanat lucu. Lalu beliau berpesan, “Beri olesan hitam di lesung pipinya, agar dia tidak terkena ‘ain.

Demikianlah beberapa cara menangkal atau membentengi diri dari pengaruh ‘ain baik bagi orang yang memandang maupun bagi yang dipandang, karena keduanya mempunyai andil yang sama dalam rangka perbentengan ‘ain.

Dan tidak kalah penting adalah senantiasa menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang dilarang Agama, karena pasti yang dilarang oleh syari’at mempunyai dampak buruk baik secara material maupun immaterial. 

Semoga bermanfa’at.


Kontributor: Tim Media Center JRA Demak


#penyakitain

#perbentenganain

#ruqyahaswaja

#jra

#jrademak

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

JRA DEMAK TEAM BARUKLINTING